![]() |
| Hasyim Muzadi: radikalisme bukan berasal dari Indonesia |
JAKARTA - Aksi
radikalisme dan terorisme oleh kelompok-kelompok agama tertentu tidak
benar-benar muncul di Indonesia, kata mantan ketua umum Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi.
"Begitu juga,
hubungan antar agama di Indonesia terjalin secara harmonis, termasuk antar
budaya dan adat istiadat dalam kerangka bhinneka tunggal ika (berbeda-beda
tetapi satu)," ujar Hasyim Muzafi dalam sambutannya pada Dialog
Indonesia-Uni Eropa tentang Hak Asasi Manusia, Selasa (28/6) lalu di Brussels,
Belgia.
Dalam informasi tertulis
yang diterima di Jakarta, Jumat, Hasyim Muzadi menyatakan bahwa kekerasan,
ekstremisme dan terorisme mulai muncul di Indonesia setelah tragedi gedung
kembar World Trade Center (WTC) di New York, AS, pada 11 September 2001.
Hasyim mengatakan bahwa
proses reformasi di Indonesia yang didukung keterbukaan juga menyebabkan
masuknya gerakan radikal dan ekstrimis di negara ini.
"Oleh karena itu,
Indonesia bukanlah bangsa yang radikal dan sarang teroris tetapi pada
kenyataannya, juga sebagai korban dari peringkatan pengaruh global radikalisme
dan terorisme," ujar Hasyim Musadi.
Hasyim Muzadi yang juga
menjabat sebagai Dewan Penasehat Presiden RI mengatakan bahwa Indonesia tidak
bisa melarang ideologi radikal karena proses demokratisasi di negeri ini.
Menurut Hasyim sebelum
masuknya ideologi agama transnasionalisme yang membawa sistem politik negara
asing, sebagian besar umat Islam di Indonesia menganut ideologi Islam moderat
yang disebut "Ahli sunnah wal jamaah" yang terkonsolidasi dengan
sistem negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Muzadi mendesak Indonesia
dan masyarakat internasional untuk merumuskan solusi umum untuk melawan
kekerasan, radikalisme dan terorisme.
"Beberapa langkah
yang dilakukan Indonesia untuk menghadapi masalah tersebut adalah dengan
menjalankan gerakan anti-radikalisme untuk meningkatkan kesadaran di setiap
bagian dari masyarakat. Masalah yang paling rawan adalah kesalahpahaman dan
penyalahgunaan agama. Agama ditujukan untuk kebaikan seluruh umat manusia,
tetapi mereka telah berubah menjadi bencana kemanusiaan," tegas Hasyim.
Hasyim juga menambahkan
bahwa jika pendekatan ideologis dan hukum tidak bisa menghentikan gerakan
radikal, maka tindakan untuk menekan terorisme harus diambil melalui pendekatan
keamanan.

