Di Antara Harapan dan Kecemasan

Di Antara Harapan dan Kecemasan - Dalam jangka waktu yang panjang hanya akan ada lima raja di dunia teknologi informasi. Mereka adalah Google, Facebook, Microsoft, Intel, dan Sisco. Masing-masing raja tidak bersaing melainkan saling dukung, karena berbeda produk.
Nampaknya persaingan itu, baik yang sehat ataupun tidak, hanya akan terjadi pada yang berorientasi sama. Maka pada kasus ini sungguh benar bahwa perbedaan adalah rakhmat. Pada kasus ini, dan belum tentu pada kasus yang lain.
Akhirnya kita hanya bisa mengatakan bahwa perbedaan dan persamaan dua-duanya diperlukan dalam rangka mencari rakhmat dan kebaikan. Mencari rakhmat sama artinya dengan membuang laknat. Persamaan bisa menjadi laknat, misalnya saat sesama jenis saling bercinta Perbedaan bisa menjadi laknat pula, misalnya saat istri muda dan istri tua terus berantem.
Bisa jadi ini adalah sebuah tulisan yang tidak jelas kategorinya, persis seperti ketidakjelasan tentang akan dibawa kearah mana negara ini. Sungguh tidak ada keseragaman tentang hal yang dirasakan oleh masing-masing rakyat Indonesia. Ibu A misalnya, dia sangat optimis bahwa negeri ini akan segera membaik hanya gara-gara masih mampu memasak menu kesukaannya. Kemudian dia gembar-gembor berusaha meyakinkan khalayak bahwa semua akan baik-baik saja. Lain ibu A lain pula bang B, si abang yang satu ini justru pesimis tentang kebangkitan negeri yang akan bisa diraih bila tidak ada perombakan besar-besaran di tubuh pemerintah. Ia merasakan betul bahwa jaman sekarang adalah jaman tanpa pola. Demikianlah, pada kenyataan sehari-hari sungguh mudah kita mendapati perbedaan seperti yang terjadi di antara ibu A dan bang B.
Di antara sikap optimis dan pesimis sebenarnya ada sikap pertengahan, yaitu harap-harap cemas. Dan sikap inilah yang nampaknya paling real serta Islami. Harap-harap cemas adalah sikap penuh harap hanya kepada Allah, dan itu diiringi oleh kecemasan tentang kealfaan manusia sehingga pertolongan Allah tidak juga tiba.
Bagaimana mungkin kita akan terus berteriak "kita bisa" padahal manusia sesungguhnya tidak memiliki daya dan upaya melainkan sebatas apa yang telah diberikan oleh Allah. Dan bagaimana mungkin pula kita pantas terus-menerus mengobral pesimisme padahal sikap putus asa adalah dosa. Maka pada sisi inilah sudah sepantasnya kita meramu komposisi yang pas antara optimisme dan pesimisme. Dan itu disebut sebagai sikap harap-harap cemas!