![]() |
| Bank BJB Catat Laba Bersih Rp1,38 T |
JAKARTA – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten
Tbk (Bank BJB) mencatat laba bersih sebesar Rp1,38 triliun sepanjang tahun 2015
atau meningkat 24,7% dibandingkan tahun sebelumnya senilai Rp1,12 triliun.
Direktur Utama Bank BJB Ahmad Irfan mengatakan, faktor utama yang mendorong
kenaikan laba bersih ini berasal dari pendapatan bunga bersih yang tumbuh 11,5%
dan fee based income juga meningkat 10,9%.
”Pencapaian
kinerja Bank BJB yang menggembirakan ini merupakan hasil dari kerja keras kami
dan seluruh elemen perseroan yang senantiasa berkomitmen untuk mencatat
pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” kata Irfan seusai analyst meeting full year Bank BJB di Jakarta kemarin.
Dia mengungkapkan, total
aset Bank BJB sepanjang 2015 juga mengalami kenaikan 16,9% atau mencapai Rp88,7
triliun. Sementara dari sisi portofolio kredit, total kredit yang sudah
disalurkan hingga akhir 2015 mencapai Rp55,3 triliun atau meningkat sebesar 12%
dibandingkan periode yang sama pada 2014. ”Pencapaian
tersebut juga tidak terlepas dari dukungan kegiatan-kegiatan pemasaran yang
telah dilakukan perusahaan maupun pengembangan jaringan dan layanan serta fitur
produk untuk kepuasan nasabah,” ujarnya.
Ahmad menjelaskan, total
kredit yang telah disalurkan didorong segmen kredit konsumer tumbuh 13,8%
menjadi Rp38,2 triliun dengan jumlah nasabah meningkat dari 350.446 menjadi
364.827 nasabah. Sementara, kredit korporasi dan komersial mengalami
pertumbuhan menjadi Rp9,2 triliun atau meningkat 35%. ”Hingga akhir 2015 rasio kredit bermasalah (non
performing loan/NPL) perseroan mengalami penurunan menjadi 2,9% dari posisi di
akhir 2014 sebesar 4,1%, untuk kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) di tahun lalu
tercatat tumbuh sebesar 17,1% atau mencapai Rp67,6 triliun,” tambahnya.
Ke depan, lanjut dia,
perseroan berencana meminta kepada pemegang saham pengendalinya (PSP) untuk menurunkan
besaran dividen pay out-nya dari 63% menjadi 40%. PSP BJB adalah Pemerintah
Provinsi Jawa Barat dan Banten. ”Kami akan
minta penurunan dividen pay out dalam RUPS (rapat umum pemegang saham) tahunan
dalam membahas laporan keuangan tahun buku 2015,” kata Irfan. Bank BJB sengaja mengajukan kelonggaran kewajiban dividen demi
menjaga aset perusahaan.
Dengan menurunkan
dividen, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) pun akan
semakin meningkat. ”Akhir tahun
2015 CAR BJB 16,2%. Namun jika disetujui, akan menjadi 17%,” imbuhnya. Irfan menjelaskan jika dividen pay out
turun, dirinya optimistis pertumbuhan kredit BJB akan meningkat di tahun ini.
Pertumbuhan kredit untuk mengantisipasi penerapan Basel III. Bank BJB pun
memasang target pertumbuhan di kisaran 13% hingga 15%.
Irfan mengungkapkan,
penurunan dividen pay out ini sejalan dengan iimbauan Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) yang meminta kepada pemerintah daerah selaku pemegang saham Bank
Pembangunan Daerah agar menurunkan dividen pay out. ”Malah OJK Minta hingga 30% sedangkan kami hanya
minta 40% dan tahun-tahun berikutnya akan kami minta lebih kecil,” pungkasnya.
Sebelumnya Ketua Dewan
Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, pihaknya telah melayangkan surat
imbauan terkait hal tersebut kepada kepala daerah. Hal ini dilakukan dengan
harapan dapat memperkuat permodalan dan meningkatkan daya saing kelompok Bank
Pembangunan Daerah (BPD). Dalam surat tersebut, Muliaman tidak menyebutkan
secara rinci sampai di level berapa dividen BPD harus dikurangi.
Dirinya hanya memberikan
contoh pemerintah pusat yang menurunkan rasio dividen bank dengan status badan
usaha milik negara (BUMN) sekitar 10%, dari 30% menjadi sekitar 20%.Menurutnya,
respons yang didapat dari para pemimpin daerah cukup positif dengan adanya
rencananya peningkatan peran BPD untuk mendukung kegiatan ekonomi di daerah
masing-masing.
Sumber: Klik di sini!

