![]() |
| Penertiban Alang-Alang Mengalir Banyak Pujian |
SERPONG – Banyak kalangan menyambut gembira dan memuji
keberhasilan Pemkot dalam penertiban lokasi prostitusi Alang-Alang di Buaran,
Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) pada dua hari kemarin. Penertiban
dengan meratakan warung remang-remang dan tempat hiburan malam tersebut juga
diapresiasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pihaknya menilai penertiban
ini bisa berlanjut ke tempat lain.
Penertiban itu, menurut
Sekretaris Umum (Sekum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangsel, Abdul Rojak
merupakan keberhasilan aparat Pemkot yang turut disaksikan langsung oleh
dirinya. Penggusuran terhadap lokasi prostitusi Alang-Alang berdampak positif,
sehingga selayaknya mendapat dukungan dikarenakan membuat suasana kondusif dan
jauh dari maksiat.
“Pastinya
langkah yang diambil Pemkot sangat tepat. Kita mengajak kepada masyarakat
mendapatkan uang melalui cara yang halal dan nyaman tidak ada kegaduhan. Kalau
ada tempat prostitusi pasti tak aman banyak pemabuk hingga gaduh,” kata Rojak, Jumat (13/5).
Diungkapkan Rojak,
masyarakat sekitar Alang-Alang sepakat ada upaya penggusuran. Namun Pemkot
harus tegas dalam penertiban, sebab masih ada tempat lain yang ditengarai
menjadi lokasi prostitusi. “Kami mendengar
sendiri dari warga di Alang-alang. Mereka meminta Satpol PP melakukan hal yang
sama di banyak tempat seperti Kelapa Dua Kecamatan Setu, Haka Kecamatan Setu,
Pondok Kacang Timur, Pondok Aren dan kos-kosan serta hotel,” kata Rojak menirukan penuturan warga Alang-alang.
Dari permintaan itu,
Rojak menyimpulkan masyakarat mengetahui banyak tempat lain yang dijadikan
kegiatan esek-esek. Keberanian tidak tebang pilih menjadi cara efektif guna
memberantas praktik prostitusi terselubung. “Pemerintah tidak boleh tebang pilih. Kalau ada laporan masyarakat harus
menindaklanjuti, mengumpulkan bukti-bukti yang kuat supaya dapat ditindak
tegas,” pugkas warga Serpong ini.
Pria yang juga aktif
dalam Forum Kerukunan Umat Beragama itu mengingatkan, ketegasan Pemkot penting
dalam meminalisir praktik prostitusi. Upaya penertiban bagian dari integral
penerapan motto cerdas, modern dan religius. “Pemkot harus kerja tuntas, jangan setengah-setengah. Sebab kemungkinan
Alang-Alang kembali lagi. Cara mencegahnya harus ada pengawasan, tingkat lurah,
kecamatan para tokoh masyarakat RT dan RW,” paparnya.
Perlu ada kesepakatan
hitam diatas putih kepada warga. Jika ada warga yang beraktifitas di
Alang-Alang menjual miras dan melakukan prostitusi harus diundang dan dibina. “Memang harus ada komitmen dalam menciptakan
kenyamanan penduduk asli di kawasan Alang-Alang,” tambah Rojak.Dia menyarankan SKPD kerjasama tingkat Komunitas Intelijen
Daerah (Kominda) agar bisa bersama-sama melakukan pengawasan dan mengantisipasi
peredaran aktifitas miras lantaran turut menyulut polemik di masyarakat.
“Banyak cara
dilakukan Pemkot, misalkan menggandeng Kominda,” imbuhnya.Ketua MUI Tangsel KH Saidi menegaskan, perlu ada ketegasan dan
keseriusan dalam menanggani Alang-Alang. Jika dibiarkan, maka sama saja
membebaskan prostitusi. “Jangan sampai
Pemkot memberikan ruang. Perlu dijaga oleh Pemkot dengan kerjasama masyarakat,” jelasnya.
Kepala Dinas Sosial
Ketenagakerjan dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Tangsel Purnama Wijaya menjelaskan
terkait dorongan perlu meniru Doli di Surabaya untuk memberdayakan para eks
pekerja seks komersial, pihaknya belum memiliki anggaran.
“Tangsel
inginnya seperti Surabaya, tapi anggarannya belum ada. Diharapkan tahun depan
ada anggaran untuk memberikan modal kepada PSK, guna modal jualan, memberikan
pelatihan sampai diantar ke kampung halamanya, sehingga mereka tidak kembali
lagi menjadi PSK,” papar
Purnama.
Sedangkan upaya
penggusuran Alang-Alang, pihaknya meyakini sebagai satu langkah yang tepat.
Namun yang dikhawatirkan para PSK kembali lagi ke Tangsel kendati bukan di
Alang-Alang. Oleh karenanya diperlukan kerjasama dan kerja keras agar tidak ada
tempat prostitusi di Tangsel.

