![]() |
| Lebaran Betawi |
JAKARTA dan beberapa
daerah lainnya tak lama lagi, dalam hitungan bulan saja, akan menyelenggarakan
Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) serentak. Menjelang hajat besar demokrasi
tersebut, suhu politik di Ibukota pun terus menghangat.
Di tengah situasi yang
demikian, suhu kota Jakarta pada Minggu (14/8), terasa adem. Selain mendapat
guyuran hujan, Ibukota juga tengah menggelar Lebaran Betawi yang merupakan
tradisi religi-budaya yang tiap tahun rutin dilaksanakan.
Kegiatan Lebaran Betawi
memiliki semangat keterbukaan, saling menghargai dan menjadi simbol persatuan
bangsa, seperti diungkapkan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat
saat menghadiri puncak Lebaran Betawi di kawasan Lapangan Banteng, Sawah Besar,
Jakarta Pusat.
” Orang Betawi itu ramah, santun,
cinta lingkungan dan terbuka, karena itu kita harus selalu kompak dan
menghargai satu sama lain,” begitu kata
mantan Walikota Blitar ini.
Pernyataan Djarot penting
untuk digarisbawahi. Kita bisa belajar dari kebudayaan Betawi tentang sikap
terbuka dalam menerima perbedaan serta saling menghargai di dalam kehidupan
bermasyarakat.
Kita berharap sikap-sikap
seperti itu dapat diterapkan dalam menghadapi panasnya tensi politik di Pilkada
DKI pada bulan Februari 2017. Sikap menerima perbedaan dan saling menghargai
amat penting maknanya dalam mengantisipasi aksi intoleransi dan antidemokrasi.
Harus diakui, dalam
banyak penyelenggaraan Pilkada, hal-hal seperti itu masih sering kita temukan.
Ucapan bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), jargon menghasut,
kampanye hitam. masih marak menghiasi.
Kita menginginkan,
Pilkada berlangsung secara sehat. Lawan segala bentuk kampanye hitam dengan
sikap santun, terbuka, dan saling menghargai, seperti tercermin dalam Lebaran
Betawi, demi terjaganya suasana kondusif Ibukota.

