![]() |
| lustrasi |
JAKARTA - Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mengalokasikan anggaran sebesar Rp107
miliar untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di
sejumlah wilayah di Tanah Air, belakangan ini.
Menteri LHK Siti Nurbaya
di Jakarta, Jumat, menyatakan dana tersebut terdiri dari anggaran kementerian
yang sudah ada sebanyak Rp93 miliar serta tambahan Rp14 miliar. "Kalau
dana tidak terlalu menjadi persoalan, karena kalau bencana dari BNPB (Badan
Nasional Penanggulangan Bencana) juga ada dana on call yang bisa digunakan
kapan saja saat diperlukan," ucapnya, ketika memaparkan dukungan
Kementerian LHK dalam penanggulangan korban erupsi Gungung Sinabung Sumatera
Utara.
Pada kesempatan tersebut
Menteri Siti menyatakan, yang justru dikuatirkan saat ini dalam upaya
penanggulangan kebakaran hutan dan lahan yakni ketiadaan sumber air untuk upaya
pemadamannya. Oleh karena itu pihaknya mengimbau masyarakat untuk melakukan
penghematan penggunaan air, menyusul bencana kekeringan yang melanda sejumlah daerah
di Indonesia akibat El Nino Moderate.
"Kita menggunakan
air rata-rata 60 liter per hari. Saya meminta agar adanya upaya penghematan
air. Dunia usaha juga harus melakukan hal itu. Industri dan hotel-hotel harus
ikut melakukan penghematan air," ujarnya.
Menurut dia, selain untuk
kebutuhan sehari-hari, air juga sangat dibutuhkan untuk memadamkan kebakaran
hutan dan lahan (karhutla) yang juga mulai terjadi di sejumlah daerah.
"Memang akibat kekeringan yang dikhawatirkan adalah tidak adanya sumber
air untuk memadamkan api. Bagaimana kita melakukan water boombing kalau airnya
tidak ada," imbuhnya.
Berdasarkan laporan Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pekan ini sudah terdapat 12 provinsi, 77
kabupaten/kota, dan 526 kecamatan yang telah mengalami kekeringan dan
diprediksi akan terus meningkat hingga November 2015. Ke-12 provinsi tersebut
adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Papua, Nusa Tenggara Barat,
Nusa Tenggara Timur, Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi
Selatan, Lampung dan Bali.
Mengenai penghematan
penggunaan air tersebut, Siti meminta ke beberapa dunia usaha seperti industri
atau hotel-hotel, perkantoran, dan rumah-rumah penduduk juga harus melakukan
penghematan air.
Selain itu, beberapa
industri vital seperti PLN diminta untuk menyiapkan "emergency
respons". "Dengan menurunnya debit air, waduk untuk listrik harus ada
antisipasi berkurangnya volume air," tukasnya.

