![]() |
| Gubernur Banten Hadiri Panen Raya, |
PANDEGLANG – Provinsi Banten mendapat mandat untuk memberi
kontribusi yang nyata terhadap pencapaian sasaran nasional, khususnya komoditas
padi harus mampu menambah produksi sebesar satu juta ton dalam waktu 3 (tiga)
tahun yaitu dari tahun 2015-2017.
Berdasarkan rilis Badan
Pusat Statistik Provinsi Banten, angka sementara (asem) produksi padi pada
tahun 2015 sebesar 2.188.996 ton gabah kering giling (gkg), yaitu meningkat
sebesar 143.113 ton gkg atau 7,0 persen bila dibandingkan produksi padi tahun
2014 yang mencapai 2.045.883 ton gkg.
“Sementara itu,
produksi jagung asem 2015 mencapai 11.870 ton pipilan kering atau meningkat
sebesar 12,90 persen bila dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 10.514 ton.
Peningkatan ini sangat dipengaruhi oleh naiknya luas panen sebesar 11,61 persen
dan peningkatan produktivitas sebesar 1,15 persen,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan
Provinsi Banten, Agus M Tauchid saat menyampaikan laporan pada kegiatan panen
raya padi gogo, kedelai, dan jagung di Petak 57 Desa Cibaliung, Kecamatan
Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Sabtu (12/3/2016) lalu.
Agus menjelaskan, selain
padi dan jagung, produksi kedelai (pajale) tahun 2015 mengalami peningkatan
bila dibandingkan tahun 2014, pada tahun 2015 produksi kedelai mencapai 7.291
ton biji kering mengalami peningkatan sebesar 907 ton atau 14,02 persen bila
dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 6.384 ton biji kering. peningkatan ini
sangat dipengaruhi oleh naiknya luas panen sebesar 10,40 persen dari 4.815
hektar di tahun 2014 menjadi 5.316 hektar pada 2015.Dengan demikian, produksi
padi di Banten pada tahun 2015 menyumbang 2,89% terhadap angka
| Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten, Agus M Tauchid |
Produksi nasional atau
menduduki urutan ke-11. Target produksi padi tahun 2016 sebesar 2.355.070 ton
gabah kering giling dengan luas tanam 429.034 hektar, luas panen 407.582 hektar
dan produktivitas sebesar 57,78 kuintal per hektar. “Terima kasih pada petani yang telah bekerja keras.
Pemerintah akan terus mendukung melalui berbagai program dan bantuan,” kata Agus.
Ia menjelaskan, di
Provinsi Banten, seluruh hutan produksi berada di bawah pengelolaan Perum
Perhutani dimana pendekatan pengelolaan hutan memiliki potensi untuk menunjang
ketahanan pangan. Perum perhutani telah mengambil langkah strategis dalam
pengelolaan hutan dengan mengikut sertakan masyarakat sekitar hutan yang tumbuh
dalam wadah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
“Perum
Perhutani melalui pendekatan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), salah
satu kegiatan yang dilakukan adalah pengembangan pola tumpangsari, dimana
masyarakat dapat menanam tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai
diantara tegakan hutan,” jelasnya.
Ia juga menargetkan pada
tahun 2016 ini produksi padi sebesar 2.3 juta ton gabah kering dengan luas tanam
429.034 hektar, luas panen 407.582 hektar dan produktivitas sebesar 57.78
kuintal per hektar. Sementara produksi jagung ditargetkan 38.489 ton pipilan
kering dengan luas tanam 10.468 hektar, luas panen 9.945 hektar dan
produktivitas sebesar 38.70 kuintal per hektar.
Dan untuk produksi
kedelai sebesar 12.830 ton biji kering dengan luas tanam 9.882 hektar, panen
9.338 hektar dan produktivitas sebesar 13.67 kuintal per hektar.“Saya berharap peran aktif dinas terkait di
provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa, KTNA,TNI, LMDH, gapoktan dan
penyuluh dapat memberikan perhatian, khususnya untuk meningkatkan pendamping
dan pengawalan dalam upaya percepatan tanam dan pengamanan produksi ditingkat
lapangan,” harapnya.
Gubernur Provinsi Banten
Rano Karno mengapresisasi kerja keras petani yang telah bersusah payah
mewujudkan target produksi tiga komoditas tersebut. Ia optimis Pemrprov Banten
dapat berhasil menyumbang padi 1 juta ton hingga 2017. “Pada prinsipnya, program swasembada pangan
berorinetasi pada kesejahteraan petani. Kita akan terus dorong agar produksi
pajale di Banten terus meningkat, apalagi Banten telah menjadi sorotan sebagai
daerah yang sangat produktif,” katanya.
Gubernur juga meminta
agar petani juga disokong oleh perbankan. Sebab, selama ini petani masih kerap
meminjam dana dari non perbankan dengan bunga yang relatif tinggi. Kondisi
demikian, kata Rano, sudah barang tentu merugikan petani. “Ini yang harus dilakukan untuk membantu petani,
memberikan suntikan dana dari non perbankan agar kegiatan pertanian mereka
tetap berjalan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut
juga dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama dengan Perum Perhutani
divisi regional Jabar dan Banten tentang pemanfaatan lahan di bawah tegakan
dengan sistem PHBM dan penandatanganan kesepakatan dengan pengusaha tentang
niaga dan pemasaran hasil.

