![]() |
| Ilustrasi |
JAKARTA - Gubernur Ali
Sadikin dulu dan Ahok sekarang, punya prinsip sama. Pendatang baru di Ibukota
harus punya pekerjaan tetap. Prinsip itu tak pernah berubah, karena arus
urbanisasi ke ibukota negara meningkat terus dari tahun ke tahun. Makanya, jika
tak punya keahlian, janganlah menjadi “wajah baru” di Ibukota. Sebab pengangguran memicu perilaku
kriminal, sehingga polisi dan Pemprov DKI akan capek dibuatnya.
Jakarta sebagai ibukota
negara, tak ubahnya lampu petromaks yang memancing kehadiran laron di malam
hari. Orang berbondong-bondong ke Jakarta, untuk mengubah nasib. Pemicunya
adalah sanak famili yang mudik Lebaran. Ketika orang-orang Jakarta itu pamer
sukses di kampung, mereka pun jadi ingi menirunya. Bersama famili yang kembali
lagi ke Ibukota, jadilah mereka “wajah baru” yang menyesaki Ibukota.
Jaman Gubernur Ali
Sadikin, Jakarta dinyatakan sebagai kota tertutup. Mereka yang tak punya
pekerjaan tetap, janganlah tinggal di Ibukota. Meski sudah diperketat pakai
uang jaminan segala, jumlah “wajah baru” selalu meningkat. Di era Gubernur Ahok, syarat “uang jaminan” itu akan
dihidupkan lagi. Sebab dengan Jakarta yang bukan lagi kota tertutup di era
Ahok, jumlah “wajah baru” semakin menggila. Kata Wagub Jarot, “Enam bulan tak punya pekerjaan di Jakarta, mereka
akan dipulangkan dengan uang jaminan itu.”
Sesungguhnya Jakarta ini
mayoritas memang dihuni kaum pendatang. Dari presiden, menteri, gubernur,
walikota, camat, anggota DPR dan para pejabat negara; semua kaum urban. Tapi
mereka semua punya pekerjaan tetap, punya keahlian yang mendatangkan nafkah.
Sedangkan kaum pendatang
yang hanya bermodal tekad, banyak yang gagal ketika berebut rejeki di ibukota
negara. Padahal perut lapar itu tak bisa ditunda, terjadilah aksi-aksi
menghalalkan segala cara alias berbuat kriminal. Dari yang sekedar jadi preman,
penodong, perampok; semua ada di Ibukota.
Maka jika tak punya
keahlian khusus yang bisa menjadi nafkah, sebaiknya harus berpikir ulang ketika
mau jadi “wajah baru” pasca Lebaran. Nanti di Ibukota tak hanya akan
bikin repot keluarga yang ditempati, tapi juga Pemprov DKI dan polisi. –

