![]() |
| Ilustrasi |
BEBERAPA bulan lagi di
negara kita akan digelar pesta demokrasi Serentak salah satunya di Wilayah Provinsi Banten , ajang pemilihan
Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah
yang akan duduk di Pemerintahan Daerah. Di sanalah nasib jutaan penduduk
daerah dipertaruhkan, apakah akan ada
lebih baik, stagnan, atau malah semakin terpuruk ? Memilih seorang pemimpin
bukan perkara mudah, tak sekedar masuk bilik, mencontreng lalu pulang.
Tak bisa hanya dilihat
sepintas wajahnya, atau membaca sekilas profilnya, lantas begitu saja
masyarakat memilih. Namun harus benar-benar dipikirkan dengan hati yang lurus
dan pemikiran yang jernih. Butuh pendalaman visi dan misi dari para calon
pemimpin yang berlaga.Namun sayang, bagai mencari jarum di tumpukan jerami,
seakan suatu khayalan menemukan pemimpin sejati saat ini.
Hingga kini para calon
pemimpin, bahkan yang telah duduk di kursi kepemimpinan hanyalah mengandalkan
pencitraan belaka. Bahkan sebagian sekedar jual tampang dan popularitas. Banyak
juga yang di awal kampanye getol menentang korupsi, ternyata malah tersandung
kasus korupsi uang rakyat.Tak cuma melanggar janji untuk tidak korupsi, para
pemimpin dan calon pemimpin ini juga tak mencerminkan sosok yang bermoral.
Maraknya perselingkuhan dan perzinahan, ditambah banyaknya kasus narkotiba dan
obat terlarang (Narkoba) yang melibatkan pejabat.Fakta terbaru tentang rusaknya
moral pemimpin saat.
Gambaran Pemimpin Dambaan
Berbicara tentang
pemimpin dambaan, tentu ingatan kita langsung melayang kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Beliau adalah
pemimpin yang benar-benar mengurusi rakyatnya, bahkan menjelang ajal yang
dikhawatirkan adalah nasib ummatnya. Bukan hanya mampu memimpin, Rasulullah
juga mampu mengkader para sahabat menjadi sosok yang mumpuni dalam mengurus
rakyat dalam Negara Kekhilafahan sepeninggal Rasulullah.
Para khalifah dalam masa
kekhilafahan Islam juga banyak yang menjadi sosok pemimpin ideal. Sebut saja
para Khulafaur Rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz. Bahkan seorang Sultan Abdul
Hamid II yang memerintah di masa-masa kemunduran Kekhilafahan juga dapat kita
banggakan ketegasan sikapnya melindungi wilayah kaum muslimin dari rongrongan
Yahudi, meski akhirnya harus dimakzulkan oleh para penghianat dengan cara keji.
Membentuk sosok pemimpin
tangguh yang peduli dan bermoral tidak dapat dilakukan dengan cara instan. Ada
pengaruh kuat dari sistem hidup yang menaunginya. Ibarat singa yang ganas hanya
datang dari hutan rimba, bukan kebun
binatang.
Sistem kapitalisme dan
demokrasi yang digunakan saat ini memandang politik sebagai cara untuk meraih
kekuasaan, maka tak heran kalau pemimpin yang dihasilkan hanyalah memikirkan
kekuasaan semata. Yang ada di benaknya
bagaimana meraih kekuasaan dan mempertahankannya, walau harus sikut sana-sini,
tanpa pertimbangan halal-haram.
Berbeda dengan sistem
Islam. Sistem hidup yang dibangun berdasarkan aqidah Islam, dengan halal-haram
sebagai standar perbuatan. Islam memandang politik (as-siyasah) adalah ‘kepengurusan urusan ummat dengan syari’at Islam, baik dalam dan luar negeri’. Sehingga fokus pembahasannya adalah bagaimana
mengurus rakyat dengan baik sesuai syari’at. Dengan
demikian pemimpin yang akan dihasilkan adalah pemimpin yang takut pada Tuhannya
sehingga benar-benar berjuang untuk kemaslahatan rakyat, bukan demi kepentingan pribadi dan
kelompoknya.
Kepemimpinan dalam Islam
ditujukan untuk menerapkan syari’at Islam
secara menyeluruh, ada ancaman jika seorang pemimpin enggan menerapkan aturan
Alloh. Sebagaimana hadist berikut :
Dari Jabir ra, dari Abu
Thalhah ra dan dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda: “ada tiga golongan manusia pada hari kiamat nanti
yang tidak akan diajak biara, tidak dilihat dan tidak diampuni dosa mereka oleh
Allah, bahkan mereka abadi selamanya didalam neraka dengan siksaan yang pedih.” (Nabi mengulangi sabdanya sampai 3x). Ibnu Abbas
berkata; “siapakah mereka?” Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “yaitu para
ulama yang mencari dunia dengan menjual agamanya, Para penguasa yang
memberlakukan undang-undang yang mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyatnya dan
para penyebar fitnah” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Amanah kepemimpinan harus
dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh. Begitu beratnya tanggungjawab pemimpin,
sampai-sampai Khalifah Umar Bin Khaththab pernah berkata :
“Seandainya seekor keledai
terperosok di kota Baghdad niscaya Umar akan diminta pertanggungjawabannya
(oleh Allah), seraya ditanya: Mengapa tidak meratakan jalan untuknya?”
Dengan bentukan sistem
Islam yang bersandar pada aqidah Islam, maka akan banyak bermunculan sosok
pemimpin yang sejati. Pilihan ada di tangan kita, tetap mempertahankan sistem
demokrasi kapitalisme dengan resiko berulangnya krisis kepemimpinan, atau
membuangnya dan mengganti dengan sistem
Islam yang mampu membentuk generasi berjiwa pemimpin?*
Oleh Sindu Adi Pradono SH
Aktivis Sosial Tinggal di
Jakarta

