![]() |
| Ilustrasi |
SERANG, (KB).- Kepala
Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Banten, H. Agus
Salim, akan berkoordinasi dengan Kementerian Agama Republik Indonesia.Hal itu
dilakukan karena adanya kekhawatiran sejumlah pihak terhadap sekolah sore atau
Madrasah Diniyah (MD) yang akan tutup jika program full day school diterapkan.
“Mengenai kebijakan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan yang akan menerapkan full day school akan kami kaji
terlebih dahulu. Jangan sampai kebijakan baru ini menghilangkan beberapa
kebijakan yang ada. Peraturan yang baik itu kan kebijakan yang baru tetapi juga
mempertahankan yang ada,” kata Agus
pada Kabar Banten, ditemui di Kantornya di KP3B Curug Kota Serang, Kamis
(11/8/2016).
Ia mengatakan, ribuan MD
di Banten berjalan tidak mengandalkan pemerintah. Menurutnya, ribuan guru yang
mengajar di MD tersebut telah susah payah agar ribuan anak-anak mau belajar.
Tujuan ratusan guru yang mengajar di MD itu juga semata-mata karena ibadah.
Sebab, kalau mengandalkan gaji sangat minim.
“Saya juga belum begitu paham,
apakah ini hanya sekadar wacana atau sudah diputuskan oleh Kemendikbud,” ucapnya.Kebijakan full day school yang banyak
diperbincangkan di media massa belum final. Sebab, tidak hanya dirinya yang
keberatan, sebagian besar wali murid di Indonesia juga masih banyak yang tidak
sepakat.
“Mereka yang tidak sepakat karena
sistem ini dinilai akan menambah beban ekonomi misalnya dengan harus memberikan
uang jajan kepada anak-anaknya,” tuturnya.
Kalau pemerintah melihat
konsep pendidikan maka hal itu bukanlah kebijakan baru. Menurutnya, ribuan
pesantren baik salafi maupun modern sudah terlebih dahulu menerapkannya, bahkan
wajib untuk menetap bukan lagi full day.
“Solusi sementara yang akan saya
sampaikan ke Kemenag, yakni kegiatan tersebut sangat bagus kalau pihak diniyah
diajak kerja sama dengan mengintegrasikan sekolah umum dan diniyah, sehingga
saling mengisi satu sama lain,” ujarnya.
Kecewa
Sementara itu, seorang
guru MD di Ciceri Kota Serang, Siti Hafilah mengaku kecewa kepada pemerintah
jika kebijakan itu diterapkan. Menurutnya, puluhan guru yang mengajar di
Madrasah Diniyah Nurul Huda Kompleks Ciceri Indah tersebut akan kehilangan
pekerjaan. Ia juga menilai kebijakan tersebut belum bisa diterapkan di
Indonesia. Sebab, anak-anak masih butuh bermain, bukan hanya belajar.
“Main di sekolah dengan main
bersama teman sekitar kan suasananya juga beda. Anak seolah tidak memiliki
beban, sehingga dapat membuat anak cepat berkembang. Beda halnya dengan bermain
di sekolah, meskipun cara penerapannya sangat santai, namun anak akan tetap
merasa memiliki beban,” katanya.
Sedangkan praktisi
pendidikan dari Yayasan Al Izzah Kota Serang Abdul Muhyi menilai wacana
Mendikbud Muhadjir Effendi terkait full day school dinilai dapat meningkatkan
kualitas pendidikan. “Kami menyambut
luar biasa full day school, karena itu berarti Mendikbud berpikir untuk
peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia,” tutur Muhyi.
Menurut Muhyi, sekolahnya
sekarang sudah menerapkan full day school. Hal itu sudah dilakukan sejak awal
berdiri pada 1996 sampai sekarang. Murid masuk sekolah pukul 07.00, pulang
pukul 15.00. Walaupun awalnya banyak yang memprotes, termasuk dari pihak Dinas
Pendidikan.
“Tapi full day school ternyata
outputnya bagus. Bahkan perkembangan jumlah murid kami juga pesat. Dari awalnya
yang hanya tujuh pendaftar, sekarang sudah 1.050 orang,” katanya.
Bertahap
Muhyi mengatakan, biaya
full day school memang mahal. Sebab, murid harus makan di sekolah. Dalam hal
ini pro kontra itu wajar.
“Yang kontra itu belum tahu, dan
mereka enak di zona amannya, tidak mau menghadapi tantangan,” tuturnya.
Penerapan kebijakan
memang harus bertahap. Awalnya wacana dulu, tapi Menteri sudah ada konsepnya.
Sekarang juga sudah ada sekitar 2.500 sekolah yang menggunakan sitem full day
school.
“Di daerah tertentu ada yang
mengadopsi (full day school) dan itu sistemnya pilihan. Untuk penerapan itu,
mungkin pemerintah dapat membuat percontohan terlebih dahulu. Misalnya SD, SMP,
SMA dua sekolah masing-masing. Seperti penerapan kurikulum 13, itu juga kan
bertahap,” ujar Muhyi.
Pemerintah pusat dan
pemerintah daerah, juga harus sadar bahwa untuk memajukan bangsa itu yang utama
di bidang pendidikan. “Sekarang
pendidikan kita terlalu rendah dan lemah. Di negara-negara lain juga sudah
menerapkan full day school. Kami setuju dengan full day school, karena itu
untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” tuturnya.
Jika berbicara tentang
pendidikan agama yang harus didapatkan anak dengan bersekolah agama di siang
sampai sore hari, kata Muhyi, itu hal teknis. Sekolah agama tujuannya agar anak
mendapatkan pengetahuan agama.
“Seperti anak-anak di SD kami,
mereka juga mendapatkan pendidikan agama. Bahkan banyak yang hafal Alquran
sampai dua juz. Memang full day school ini masih banyak teori, cuma variatif,
itu agar anak tidak bosan. Intinya masyarakat harus mau berubah untuk
peningkatan kualitas pendidikan jadi lebih baik,” katanya.
Sementara menurut Wali
Kota Serang Tubagus Haerul Jaman, pusat harus dapat melihat masing-masing
daerah memiliki kearifan lokal, kebudayaan dan religi. “Budaya di Kota Serang, generasi mudanya harus ada
pembinaan agama yang kuat. Sekarang tradisinya, setelah sekolah formal pagi
sampai siang, dilanjutlam sekolah agama. Sehingga, ada keseimbangan di generasi
penerus. Ini juga untuk mencegah mereka dari budaya negatif,” tuturnya.
Ketika pemerintah
mewacanakan full day school, kata Jaman, terlebih dahulu harus dikaji secara
betul-betul, apa segi positif dan negatifnya.
“Misalnya positifnya agar murid
dapat belajar terus lebih lama, dan apakah guru juga sanggup. Itu harus dikaji
benar-benar. Sekolah agama yang sudah ada juga mungkin akan bubar, sementara
itu dibutuhkan untuk menjadikan generasi masyarakat kota yang memiliki akhlak
baik. Jadi harus dikaji dan lihat dari semua sisi,” kata Jaman

