Menteri: Pengurangan Anggaran Tidak Akan Ganggu Program Dana Desa

Eko Putro Sandjojo 
JAKARTA - Menteri Desa Penanggulangan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo jamin dana desa tidak akan berkurang meskipun pemerintah memotong anggaran kementerian. Ketika bersilaturahmi dengan awak media di lingkungan Kemendes PDTT akhir pekan lalu, Eko mengatakan mendukung kebijakan pengurangan APBN oleh pemerintah.

Kita harus realistis dengan kondisi keuangan negara. Tapi pengurangan anggaran ini tidak akan menganggu program dana desa. Kita bisa kurangi dari penggunaan dana untuk seminar, kunjungan ke daerah, rapat-rapat dan lainnya, ujar Eko yang siap menerima kritik dan saran dari media massa. Kita mau transparan. Kalau ada kinerja Kemendes PDTT yang tidak berhasil silahkan diungkap. Itu akan jadi masukan bagi kita dan akan diperbaiki kedepannya.

Saat ini, lanjutnya anggaran dana desa yang disalurkan Rp46,9 triliun.Setiap desa akan mendapatkan dana sebesar Rp700 juta hingga Rp800 juta. Sedangkan pada tahun sebelumnya hanya Rp250 juta hingga Rp300 juta desa atau total hanya Rp20,7triliun. Tahun depan diharapkan dana desa yang turun Rp78 triliun dan tahun selanjutnya mencapai Rp107 triliun, kata Eko.

Pada kesempatan tersebut, Eko mengungkapkan tentang masih banyak desa-desa yang tidak memiliki produk unggulan dan sarana pendukung untuk distribusi pasca panen, sehingga perekonomian di desa tersebut sulit ditingkatkan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pihaknya berupaya menggandeng pimpinan pemerintah daerah seperti Gubernur, Bupati, Walikota dan pejabat daerah lainnya.

Kami berharap para Gubernur, Bupati, dan Walikota bisa memberi masukan atau usulan produk-produk unggulan diwilayahnya, agar dana desa yang diberikan bisa dimaksimalkan untuk mendukung pengadaan dan pendistribusian produk unggulan satu desa, harap Eko.

Dia mengungkapkan saat ini jumlah BUMDes di seluruh Indonesia mencapai 12.095 badan usaha. Jumlah ini masih jauh dari jumlah total desa di Indonesia yang mencapai 74.744 desa. Diharapkan dalam tiga tahun kedepan seluruh desa di Indonesia mempunyai minimal satu badan usaha milik bersama.

Lebih jauh Eko menjelaskan jika BUMDes mempunyai potensi luar biasa dalam mengerakkan ekonomi perdesaan. Agar lebih efektif pengelolaan BUMDes akan disesuaikan dengan aspirasi masyarakat berdasarkan potensi masing-masing desa.


Kita punya pengalaman baik di masa lalu saat koperasi pernah booming dan menjadi pengerak perekonomian desa. Diharapkan hal itu juga akan terjadi pada BUMDes, tentunya dengan perbaikan manajemen dan tata kelola, ujarnya.