![]() |
| Bendung Pamarayan |
CIKEUSAL – Pendangkalan yang terjadi di Bendung Pamarayan
yang berlokasi di Desa Panyabrangan, Kecamatan Cikeusal dinilai sudah kronis.
Pasalnya, dari total luas bendung mencapai 40 hektare, 25 persen atau 7,5
hektare di antaranya telah mengalami pendangkalan.
Kepala UPTD Bendung
Pamarayan, Hermanto mengatakan, sebagai titik tamping aliran sungai maka
bendung memang rentan terjadi pendangkalan dari proses pengikisan sungai.
Tetapi pendangkalan yang terjadi kini sudah pada tahap yang cukup serius.
“Pendangkalan
ini jelas sangat menganggu karena telah mengurangi daya tampung Bendung
Pamarayan. Jika normalnya bendung bisa menampung debit air hingga 3.000 M2 per
detik, kini telah berkurang 30 persen,” ujar
Hermanto, Selasa (12/4).
Ia menuturkan,
pendangkalan sendiri mulai terjadi sejak 2001 ketika banjir besar melanda
Banten untuk pertama kalinya. Sejak saat itu, pendangkalan terus terjadi,
secara akumulasi pendangkalan telah mencapai lima meter dari dasar bendung
dengan luas 7,5 hektare.
“Sekarang bisa
dilihat sendiri di bendung banyak tanah yang timbul ke permukaan air yang
terlihat seperti pulau-pulau dengan luas total 7,5 hektare. Itu adalah bukti
pendangkalan Bendung Pamarayan, dulu kedalaman bendung mencapai enam hingga
delapan meter namun kini kedalaman hanya dua meter saja,” katanya.
Untuk mengatasi hal
tersebut, kata dia, pihaknya bersama Balai Besar Wilayah Sungai Ciujung,
Cidanau, Cidurian (BBWSC3) pada 2007 telah melakukan pengerukan lumpur
sendimentasi. Namun, pengerukan tidak berjalan efektif, karena lumpur tidak
semua terangkat ke daratan.
“Saat itu,
pengerukan lumpur menggunakan beko, bukan kapal keruk. Akibatnya, pengerukan
lumpur tidak berjalan sesuai harapan,”
ungkapnya.Akibat belum tertanganinya pendangkalan tersebut, pada awal 2013 lalu
Banten kembali dilanda banjir besar yang menarik perhatian Menteri Pekerjaan
Umum saat itu, Joko Kirmanto untuk melakukan kunjungan ke Bendung Pamarayan.
“Saat itu Pak
Menteri pernah mengungkapkan jika pendangkalan Bendung Pamarayan akan dikeruk
menggunakan kapal keruk. Tetapi hingga sekarang janji itu belum juga
teralisasi. Saya khawatir jika bendung tidak segera dibenahi maka banjir besar
bisa saja kembali menerjang Banten,” tuturnya.
Bupati Serang, Ratu Tatu
Chasanah mengatakan, selain pengerukan, Pemkab juga kini tengah merintis
pembangunan tanggul raksasa sepanjang 11 kilometer dari Bendung Pamarayan
hingga Desa Nagara, Kecamatan Kibin. Tanggul dibangun sebagai antisipasi
terjadinya banjir yang kerap terjadi pada musim penghujan.
“Pembangunan
tanggul tersebut sepenuhnya akan dibiayai oleh ADB (Asian Development Bank) dan
pengembalian pinjamannya akan ditanggung oleh pemerintah pusat,” terangnya.
Sumber: Klik di sini!

