![]() |
| Ilustrasi |
BERMURAH hati (al-jud)
adalah salahsatu
anak tangga untuk menggapai ketenangan batin. Suatu ketika Abdullah bin Ja’far pergi menengok kebunnya. Di tengah perjalanan, ia
melihat seorang budak hitam yang tengah bekerja di kebun kurma.
Budak itu membawa tiga
potong roti sebagai bekal makanannya. Lalu seekor anjing mendekatinya, dan
Budak itu melemparkan sepotong rotinya kepada anjing itu dan dimakannya. Kemudian setelah
habis dimakan, ia melemparkan sepotong lagi dan anjing itu melahapnya.
Kemudian ia melemparkan
sepotong rotinya yang ketiga pada anjing itu dan anjing itu melahapnya hingga
habis. Abdullah bertanya: "Berapa bekal makananmu setiap hari?"
Jawabnya: "Hanya tiga potong roti." Abdullah bertanya lagi:
"Mengapa engkau memberikan semuanya kepada anjing itu, dan engkau sendiri
tidak makan?"
Ia menjawab: "Sebab
di daerah kami tidak ada anjing, jadi aku pikir anjing ini pasti datang dari
jauh dalam keadaan lapar, dan aku tidak mau mengusirnya." Tanya Abdullah
lagi: "Lalu, apa yang engkau makan hari ini?" Ia menjawab: "Aku
berlapar saja sampai besok. Kata Abdullah: "Benar-benar inilah yang
namanya dermawan yang murah hati, dan budak ini lebih dermawan dari pada aku.
Akhirnya, aku membeli kebun itu dan segala isi dan peralatannya serta budak
itu, lalu aku memerdekakannya
dan kuberikan semuanya kepada si budak tadi, subhanallah.
Pesan dari cerita ini
menggambarkan keistimewaan sifat-sifat kemurahan hati seorang yang rela
mengorbankan harta dan miliknya lebih banyak ketimbang yang ia miliki sendiri.
Orang yang sampai kepada maqam al-jud posisinya lebih tinggi dari pada dermawan
biasa (al-sakha'), yang dapat mengorbankan sebagian kecil hartanya tetapi masih
menyimpan sebagian besar lainnya.
Kerendahan hati biasa
juga disebut al-muatstsir yaitu orang yang sanggup menanggung segala kesulitan
dan bahaya demi mengorbankan segala kemampuannya. Dengan demikian, al-Itsar
(mengutamakan orang lain) merupakan peringkat tertinggi, kemudian urutan
berikutnya adalah al-sakha', sebagaimana firman Allah: "Dan mereka
mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun
mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari
kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS.
Al-Hasyr/59: 9).
Kedermawanan bagi bagi
orang-orang kebanyakan
(awwam) sudah cukup, meskpun tidak tertutup kemungkinan untuk naik ke maqan
al-jud. Kedermawanan sudah mampu mendekatkan diri seseorang kepada Tuhannya,
sebagaimana sabda Rasulullah Saw: "Orang yang dermawan dekat dengan Allah,
dekat dengan surga, dekat dengan sesama manusia, dan jauh dari neraka.
Sedangkan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia,
dan dekat dengan neraka."
Keterangan dari ayat dan
hadis di atas menunjukkan betapa mulianya orang yang dikaruniai
kemurahan hati (al-jud). Dalam era sekarang ini mungkin orang seperti ini
langka. Yang banyak ditemukan ialah kebalikannya, yaitu kikir dan pelit. Bahkan
banyak orang yang sesungguhnya sudah mampu, tetapi dirasuku kebiasaan
meminta-minta, mereka suka menumpuk harta dan tanpa perasaan bersalah
membiarkan hartanya menumpuk di bawah penguasaannya, sementara di sekitarnya
banyak orang menjerit diterpa kemiskinan.
Di sekitar kita mungkin
ada orang yang korban gempa atau musibah lain memerlukan perhatian dan bantuan,
itu ujian bagi kita. Yang penting bantuan yang diberikan tidak ditenggerlamkan
oleh riya dalam bentu iklan dan publikasi yang terkesan berlebihan. Padahal,
kalangan hukama' berkata: "Tanamlah amal kebajikannya di bumi ketidak
terkenalan jika anda ingin panen di akhirat. Semua amal kebajikan yang ditanam
di bumi keterkenalan hanya akan panen di dunia, tidak lagi di akhirat".
***

