![]() |
| Ilustrasi |
TANGERANG - Warga dari
dua RW di Sektor 1.6 BSD, Kelurahan Rawa Buntu, Kecamatan Serpong menolak Jalan
Versailles ditutup. Mereka menduga penutupan itu terkait dengan rencana
penerapan parkir meter oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika
(Dishubkominfo) Kota Tangsel di kawasan tersebut.
Ketua Paguyuban Warga
Sektor I.6 BSD, Dhia Prekasha Yoedha menjelaskan mereka sudah sejak lama
mendengar wacana penutupan jalan yang merupakan fasilitas sosial (fasos) dan
fasilitas umum (fasum) dari pengembang BSD itu.
“Jalan
Versailles depan ruko itu adalah jalan pengganti yang lama. Jalan lama
sebetulnya yang saat ini dibangun Cluster Versailles. Jadi itu murni fasos
fasum untuk akses jalan warga setiap hari,” katanya.
Warga pun akan terisolasi
jika Jalan Versailles itu ditutup karena, tidak ada akses lain. Jalan
Versailles ini menghubungkan Jalan Pare 1 ke Jalan Wortel 1 yang menembus
Perumahan Anggrek Loka. Terlebih jika nanti ada parkir meter, warga dikenakan
biaya untuk keluar masuk rumah masing-masing.
“Warga menolak
dengan tegas jika akses keluar masuk harus dikenakan parkir. Sebagian besar
pemilik Ruko Versailles pun tidak sepakat jika ada parkir meter karena
pendapatan akan turun lantaran kemungkinan konsumen malas datang,” paparnya.
Menurut Yoedha, jalan
yang merupakan aset milik BSD itu tengah diserahkan ke Pemkot Tangsel
sehingga,Dishubkominfo ingin memanfaatkan dengan membangun parkir meter. “Dishubkominfo menganggap lahannya sudah milik
Pemkot Tangsel sehingga, mereka mau mengambil alih,” paparnya.
Yoedha menerangkan sejak
wacana penutupan Jalan Verseilles itu muncul, warga menjadi cemas. “Semestinya mereka datang dong kepada kami baik
perusahaan yang akan mengelola parkir atau Dishubkominfo. Tapi tidak pernah
mereka lakukan,” tegasnya.
Di RW 8 Sektor 1.6 BSD
terdapat enam RT sedangkan, di RW 9 ada sekitar empat RT ditambah penggabungan
satu RTdari Cluster Versailles. Dengan demikian total ada 11 RT yang dihuni
kurang lebih 800 kepala keluarga (KK).
Sebagian warga memiliki
kendaraan roda empat sehingga, jika parkir meter diberlakukan mereka keberatan.
“Apapun namanya jika mereka
hendak menutup jalan itu tidak dibenarkan. Itu salah karena akses jalan tidak
boleh dimanfaatkan untuk pemungutan parkir,” imbuhnya.
Dampak yang lebih luas bukan
hanya warga di Sektor 1.6 tapi, yang ada di luar seperti sektor I.I dan sektor
I.2 juga turut merasakan jika akses itu ditutup. Upaya penolakan penutupan
jalan itu sudah disampaikan ke Wakil Ketua DPRD Kota Tangsel, Tb Bayu Murdani,
belum lama ini.
“Warga sudah
berdialog dengan dewan. Kamis mendatang kami akan audiensi dengan dewan.
Intinya dewan akan mendukung warga,” sebut Yoedha.
Sementara, Kepala
Dishubkominfo Kota Tangsel, Sukanta saat dikonfirmasi tentang kabar akan
dilakukan penutupan jalan yang akan digunakan untuk parkir meter, dirinya
membantah keras. Menurutnya, lahan yang dipergunakan Jalan Versailles itu
merupakan fasos fasum yang tidak mungkin digunakan untuk parkir.
“Selama ini
tidak ada wacana itu. Apalagi lokasinya adalah fasos fasum jalan, makanya tidak
ada
penutupan,” kata Sukanta.
Setahun lalu, warga
Versailles juga pernah berdemo dengan membentangkan spanduk pemberlakukan
parkir meter di ruko kawasan perumahan itu. Kini muncul persoalan baru, terkait
wacana jalan itu akan ditutup untuk parkir meter.

